Disadari atau tidak, teknologi berkembang sangat dinamis, menawarkan cara-cara baru yang lebih efektif (dan terkadang lebih menarik), untuk menyelesaikan permasalahan kita. Hal ini tentu juga berdampak langsung bagi para pelaku industri, di bidang apapun. Tak hanya swasta, namun juga pemerintahan dalam ranah pelayanan publik.

Disrupsi digital menempatkan perusahaan dan organisasi pada kondisi perubahan radikal dalam konteks sumber daya manusia, lingkungan kerja dan industri secara keseluruhan.

Harvard Business Review melakukan survei dan hasilnya menunjukkan bahwa 80% organisasi, baik komersil maupun non-komersil di dunia akan mengalami disrupsi dalam tiga tahun ke depan. Dalam risetnya bersama MIT, 70% dari 1,000 CEO yang di-interview (dari 131 negara dan 27 industri) percaya bahwa mereka tidak punya keahlian serta operasional perusahaan yang tepat untuk beradaptasi di era milenial yang serba digital.

Tak bisa ditawar, seluruh elemen dalam kelompok harus meningkatkan kinerja, serta tak ketinggalan terus melakukan inovasi agar dapat bertahan, bertarung, dan menang.

Lalu apa yang dibutuhkan agar dapat meningkatkan kinerja, baik pribadi maupun tim? Ada beberapa hal dalam yang perlu dipahami agar menjadi pemenang di era digital:

Tanamkan ‘DNA Digital’

Menjadi keniscayaan bagi seluruh unsur organisasi, mulai dari pemimpin, jajaran manajemen hingga staf, untuk memiliki ‘DNA digital’ guna mengelola dan memanfaatkan dengan baik perubahan model bisnis serta pendekatan manajerial baru.

DNA itu mengalir dalam tubuh. Memiliki ‘DNA Digital’ artinya tubuh kita berpikir, bereaksi dan bertindak secara naluriah menanggapi tren dan perubahan apapun yang berkaitan dengan digitalisasi.

Sekarang coba rasakan, adakah ‘DNA Digital’ di dalam tubuh Anda? Atau pada tim Anda? Jika belum terasa, coba ingat-ingat, tak perlu yang rumit, cukup hal sepele saja, seperti absen misalnya. Mungkin tadi pagi Anda atau karyawan Anda masih buang-buang waktu untuk antre panjang di depan mesin absen, atau yang lebih menyedihkan organisasi Anda masih mengedarkan kertas dari meja ke meja untuk keperluan data kehadiran anggota.

Jika persoalan absen saja masih jadi masalah, pembicaraan tentang meningkatkan kinerja hanya omong kosong. Saat Anda masih sibuk mengurusi masalah sesepele antrean absen, perusahaan sebelah sudah merilis produk baru lagi, dan lagi. Ucapkan selamat tinggal.

Biasakan Otomatisasi

Jika ada hal dalam pekerjaan yang bisa dilakukan secara otomatis menggunakan bantuan teknologi dan terbukti menyingkat waktu, tidak ada alasan untuk Anda masih melakukannya secara manual, kecuali Anda memang suka menyiksa diri sendiri.

Eksekusi rencana bisa dipercepat, evaluasi bisa segera dilakukan untuk mendapat hasil lebih maksimal, lakukan inovasi, dan potensi target tercapai pun makin besar dan cepat. Ini yang dimaksud pendekatan baru dari sisi operasional.

Peng-aplikasian teknologi jadi faktor penting di sini. Seluruh unsur dalam tim harus dapat melihat potensi pengembangan teknologi untuk meningkatkan komunikasi dan kolaborasi, memunculkan inovasi, mengefektifkan operasional dan memperbaiki kinerja individu maupun kelompok.

Jika Anda adalah seorang pemimpin atau jajaran manajemen sebuah perusahaan yang sebelumnya masih menggunakan cara konvensional, proses transformasi digital ini harus mendapat perhatian khusus demi meningkatkan kinerja seluruh elemen di tim. Merupakan tugas pemimpin untuk meletakkan fondasi dan memfasilitasi transformasi digital. Sadarilah bahwa proses ini seperti lari maraton bukan sprint. Butuh pendekatan holistik, dan terpadu.

Tak harus langsung melakukan perubahan total, amati dulu dari hal kecil, seperti efektivitas urusan surat-menyurat untuk disposisi tugas dalam tim internal, monitoring performa anggota tim, atau mungkin tahap reporting anggota. Silakan catat hal-hal yang selama ini terlalu menyita waktu.

Budayakan sikap partisipatif

Era digital adalah era kolaborasi. Jika Anda pemimpin, memimpinlah dari tengah kelompok, sudah bukan saatnya Anda untuk selalu berdiri di depan, karena Anda bukan tiang bendera.

Dalam praktek kepemimpinan di era digital, pemimpin harus bersedia dan mampu berkomunikasi dengan cara, alat, dan saluran baru, yang berfokus pada dialog dan kolaborasi, bukan perintah dan kontrol.

Tumbuhkan hubungan yang baik dengan anggota dan berikan perhatian terhadap kinerja mereka. Pemimpin harus melakukan pengecekan kinerja secara berkala sambil melakukan diskusi tentang keterlibatan masing-masing, tunjukkan bahwa mereka punya andil dalam kesuksesan tim.

Jika Anda seorang staf, sudah saatnya melepas kacamata kuda dan terus meringkuk di kotak nyaman Anda yang bernama ‘tupoksi’. Sudah saatnya kita lebih terlibat dalam tim, jangan menolak pekerjaan hanya karena itu tidak sesuai dengan tupoksi.

Pada era di mana informasi berseliweran sangat banyak dan cepat, bukan zamannya lagi suatu ilmu hanya milik kalangan tertentu yang sudah di-stigmakan. Anda yang bekerja pada posisi akunting namun memiliki hobi desain grafik, siapa tahu bisa membantu memberi masukan pada tim multimedia perusahaan Anda. Tak harus menunggu diminta karena sungkan, toh itu demi kemajuan tim.

Tak ada yang tahu dan menyangka, pengetahuan atau keterampilan kita berguna menyelesaikan permasalahan yang dihadapi rekan se-tim.